Kadang Tidak suka pulang kampung, bukan karena tidak rindu sama keluarga, hanya saja selalu ada acara pamit dengan orang tua, dan rasanya selalu seperti mengulang pamit pertama kali ke makassar, berat! Mereka juga seperti berat melepas. Selalu seperti masih ada rindu yang belum terselesaikan.

Padahal sudah tidak terhitung perjalanan bolak-balik makassar sidrap, hebatnya orang tua selalu ada pesan yg berbeda tiap cium tangan mereka saat pamit, mungkin iya pesannya sama, tapi saya merasa pesannya beda. 

Sama seperti yang lain, sebelum berangkat ritual cium tangan ibu bapak pasti saya lakukan,

tadi tangan ibu tercium masih bau ikan, mungkin efek dari meyiapkan makan malam untuk saya sebelum berangkat, pantas makan malamku tadi masih tersaji hangat, dan pantas enak sekali,

beda lagi dengan bapak, tangan bapak beda lagi, karena belum sempat mandi setelah dari sawah, tangan bapak masih bau lumpur, ikan yang kusantap tadi katanya ditangkap di sawah, pantas enak sekali!
Bapak memang agak bandel jika disuruh mandi, dia akan mandi setelah menyeruput kopi hitam dan mengisap beberapa puntung rokok.

8 tahun terakhir, bapak mulai menggarap sawah sendiri, yang sebelumnya digarap orang lain atau yang biasa kami sebut “mattaneng gajiang” dengan sitem bagi hasil, bapak menggarap sawah sendiri imbas dari pasar sentral yang pindah tempat, menjadikan lokasi rumah kami sekaligus toko tidak lagi strategis, bukan cuma pembeli yang sepi, barang dagangan di rumah pun mulai berkurang, karena tidak pernah ditambah lagi.

8 tahun belakangan, bapak mulai menggarap sawah sendiri, imbas dari saya sudah mulai kuliah, saya mulai butuh banyak biaya dan penghasilan dari toko tidak dapat diandalkan lagi. Bapak tidak pernah mengeluh, atau mungkin tidak mengeluh di depanku, sifat dasar laki-laki.

Beban Perjuangan orang tuaku dan orang tua lainnya mungkin sama meski di medan yang berbeda, maka tidak salah, jika pencapaian, hasil dan kesuksesan yang di raih, kita DEDIKASIKAN buat mereka.

Iklan