Masih pagi sekali saat itu, saya ingat masih memakai handuk sehabis mandi, dengan rambut yang masih basah. Rambut memang selalu menjadi bagian yang paling terakhir saya keringkan. Belum juga sempat mengeringkan rambut telepon seluler berbunyi dan memunculkan nama “MAMA”, dengan sigap saya angkat sembari mengucapkan salam kemudian dibalas Mama, panggilan saya kepada Ibu. “Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh nak,” berlanjutlah pembicaraan anak dan Ibu via telepon.

Seperti  pada umumnya pembicaraan dengan Ibu mengalir dengan menanyakan keadaan, kondisi kerjaan yang biasa kubalas dengan pertanyaan yang sama, tidak lupa kutanyakan kabar adik yang paling bungsu yang masih duduk di kelas 4 SD, dan tentu tidak lupa kutanyakan keadaan bapak. Tidak jarang saya atau Ibu bergantian curhat tentang apa yang kami alami sepekan terakhir.

Kemudian muncul pertanyaan yang membuat hati gundah

de’mulisu mappammula puasa nak?” ibu menanyakan apakah saya akan pulang untuk puasa pertama di kampung

iye mak, de’ulisu maega jama-jamang okko kantoro’e, de’ nappassengnga bos ku lisu” dengan berat hati saya  menjelaskan bahwa tugas kantor lagi banyak dan tidak ada izin dari bos.

“sayangna di, engka manengni silessurengmu okko bolae, ikomeni deggaga” Saya hanya bisa mengurut dada saat Ibu memberitahu jika semua anaknya sudah berkumpul tanpa saya.

“…….”

Percakapan singkat yang sukses membuat saya terdiam sepersekian detik, tapi mampu membawa saya ke dalam perjalanan waktu yang panjang. Dalam sepersekian detik, wajah Ibu terbayang. Wajah yang selalu melepas senyum meski lelah menyiapkan santapan berbuka kami sekeluarga.  Pun wajah bapak ikut terbayang, wajah yang menyimpan kasih sayang di balik ekpresi datar yang sering beliau tampilkan. Saya tahu, di balik wajah beliau tersimpan cinta pada anaknya melebihi apapun di dunia.

Sepersekian detik itu membawa saya membayangkan santapan sahur dan berbuka di rumah. Indera penciuman saya langsung menangkap aroma tempe goreng sambal tumis yang tidak pernah alpa mengisi santapan buka dan sahur kami sekeluarga, menu itu selalu hadir karena adik saya yang pertama agak rewel soal  lauk pauk. Dulu ketika kecil bahkan di acara pengantin pun dia tidak akan makan jika lauknya bukan tempe atau ikan kering. Satu lagi masakan Ibu yang selalu berhasil membuat saya rindu Nasu Palekko, sambal goreng berbahan dasar daging bebek, tapi Jangan paksa saya menceritakan nikmatnya Nasu Palekko.

Pada setiap Ramadhan meja makan di rumah menganggur, kami memilih berbuka puasa maupun sahur dengan duduk bersila di lantai. Kesepakatan yang tidak pernah dibicarakan ini sudah berlangsung bertahun-tahun sepanjang ingatan saya.  Entah mereka tahu atau tidak, sebuah jurnal di Eropa menyatakan bahwa makan dengan duduk bersila itu membuat hidup lebih lama.

Formasi duduk akan membentuk lingkaran dengan baki yang menjadi porosnya, Bapak duduk menghadap timur, Ibu di sebelah kanan bapak dan saya di sebelah kiri, Chandra (anak kedua) duduk di sebelah kiri saya dan Yenni (anak ketiga dan satu-satunya perempuan) duduk di sebelah kanan Ibu. Posisi duduk ini jarang berubah jika kami hadir lengkap saat buka puasa, namun beberapa tahun terakhir dikacaukan oleh Eghi (si bungsu) yang memilih duduk dimanapun dia mau.

Sepersekian detik itu membawa saya membayangkan suasana kampung ketika Ramadhan; sore hari menjelang berbuka adalah saat-saat yang ramai, ketika saya bersama teman-teman seumuran menghabiskan waktu di dekker-dekker sebuah perempatan  yang memotong jalan poros menuju Enrekang. Dari tempat itu saya bisa melihat lalu lalang kendaraan angkutan lintas kabupaten dari 4 penjuru arah. Tak jarang disela oleh rombongan bermotor pemuda yang ngabuburit dengan berkeliling tak tentu arah, sarung yang dikalungkan di leher serta peci di kepala membuat mereka tampak sama.

Sepersekian detik itu berlalu ketika Ibu dalam telepon mengatakan “tette’ siaga mulau makkantoro, meloni tette’ aruwa” spontan saya menoleh ke jam dinding saat Ibu bertanya jam berapa harusnya saya ke kantor. Saat itu jam dinding menunjuk kurang 30 menit pukul 8. “masih lama,” pikir saya,  perjalanan ke kantor bisa saya tempuh 15 menit dengan santai.

elli memengno pakkanreang ko wenniwi sebelum matinro, aja mallupai lao mattarawe, baca-bacai korang mu, sempajang lima wettummu aja mallupai nak” pesan-pesan yang tak bosan Ibu sampaikan mengalir tak berjeda. Ibu mengingatkan untuk menyiapkan makanan untuk sahur, tidak lupa tarawih, baca Al-Qur’an dan shalat lima waktu.

Untung saja Ibu tidak menyinggung tentang menantu buat dia, mungkin karena momen kali ini khusus Ramadhan. Saya mengangguk dan sesekali mengiyakan. Tak lupa saya meminta maaf kepada Ibu jika ada salah kata dan perbuatan.

“Maafku selalu ada untukmu nak, bahkan jika kau tidak minta maaf, pasti mama maafkan” jawab Ibu dalam bahasa Bugis,

“……….”

Untuk mencairkan suasana setelah sempat terdiam, saya meminta Ibu untuk bicara kepada bapak yang kebetulan berada dekat Ibu. Benar dugaan saya, pembicaraan kami hanya berlangsung singkat.

Bapak hanya bertanya apakah saya akan pulang untuk puasa hari pertama, jawaban yang sama saya berikan pada bapak. Setelah meminta maaf, bapak hanya meminta saya untuk selalu menjaga diri. Selesai.

Aaahhh saya menghela napas sebelum menutup telepon. Saya harus bergegas ke kantor jika tak mau dapat teguran dari bos karena terlambat.

Bersyukurlah mereka yang dapat berkumpul bersama keluarga di hari pertama puasa, merasakan kehangatan bulan Ramadhan d tengah-tengah keluarga, hikmatnya bersantap sahur di rumah sendiri atau sekedar berangkat taraweh bersama.

Tahun ini saya tidak bisa mendapat kesempatan itu di hari pertama puasa, tahun ini puasa pertama bersama Ibu, Ibukota.

Mengutip kata seorang teman Tuhan bersama kalian para perantau yang tidak berbuka puasa pertama bersama keluarga”

 – Selamat Berpuasa –

Iklan