Tiap orang punya makanan favorit tersendiri, minimal makanan yang sangat diinginkan saat lepas dari kewajiban berpuasa. Bisa menikmati makanan favorit menjadi suatu hal yang sangat menyenangkan karena selama sebulan tidak bisa menikmati makanan-makanan tertentu di siang hari.

Saya pun demikian, memasuki puasa hari ke-7 (tujuh) keinginan itu muncul. Dari semua makanan yang banyak dijajakan saya sangat ingin merasakan hangatnya kuah dan empuknya mie yang melengkapi kenyalnya daging bakso. Bakso sendiri berasal dari bahasa Hokkien Bak-So yang secara harfiah berarti ‘daging giling’. Seperti yang kita ketahui bersama bakso memang makanan dengan daging giling sebagai bahan utamanya.

Setelah seminggu berpuasa hasrat ingin makan bakso kian meninggi. Saya tidak bisa mengatakan bahwa bakso adalah makanan favorit saya. Hanya saja entah kenapa menikmati bakso di bulan Ramadhan adalah waktu yang sangat pas, mungkin karena dari kecil ingatan akan bakso dan bulan Ramadhan sudah mengendap sebagai kenangan indah.

Salah satu bakso di Rappang Kabupaten Sid-rap (foto : cipuceb.blogspot.com)
Salah satu bakso di Rappang Kabupaten Sid-rap (foto : cipuceb.blogspot.com)

Sehabis tarawih, bakso menjadi incaran utama banyak orang di kampung saya, Rappang. Warung penjual bakso akan dipenuhi pelanggan yang masih mengenakan mukena atau peci, pemandangan yang sangat khas di bulan Ramadhan. Bukan hanya warung bakso, bakso gerobak pun laris. Mas penjual bakso gerobak pun terkadang tidak perlu bersusah payah mendorong gerobaknya kemana-mana untuk mencari pelanggan. Seringnya hanya 2 kali pemberhentian di 2 tempat yang berbeda, persediaan bakso sudah habis terjual.

Larisnya bakso di bulan Ramadhan bukan karena tidak ada pilihan makanan lain.  Hanya saja mengembalikan tenaga dengan makan bakso setelah beribadah menjadi pilihan yang tepat. Harga yang cukup terjangkau dan penyajiannya yang cepat menjadi alasannya. Saya dan teman-teman memiliki istilah sendiri untuk kebiasaan ini yaitu ‘mabak’ singkatan dari makan bakso.

Biasanya bakso gerobak akan berhenti di sebuah perempatan di bawah lampu jalan. dimana sering ditempati anak muda berkumpul. Hanya dengan memukul mangkuk bakso menggunakan sendok, pelanggan berdatangan bak laron mencari cahaya. Mabak di pinggir jalan sambil jongkok dengan masih menggunakan sarung serta sajadah di pundak adalah hal yang saya rindukan. Tak peduli kaki kram karena kelamaan jongkok, debu-debu beterbangan karena kendaraan melintas, asalkan bisa merasakan lezatnya kuah pedas bakso. Keringat yang bercucuran di dahi karena sensasi pedas penanda klimaks ritual yang satu ini.

Tidak jarang bakso gerobak habis dalam satu pemberhentian, diborong oleh satu keluarga besar yang berkumpul di bawah rumah panggung dan mabak di atas ladda-ladda balai-balai dari bambu) dengan penerangan seadanya. Bila seperti ini saya harus saya mencari bakso gerobak lainnya. Terkadang juga habis di pemberhentian depan sebuah rumah yang sudah berkumpul puluhan anak muda sebaya.

Biasanya setiap titik tertentu berkumpul anak muda seangkatan yang asyik mengenang masa-masa sekolah dulu. Libur bulan Ramadhan menjadi waktu yang tepat bagi mereka berkumpul, bertemu dan bernostalgia sambil mabak. Sering kali salah satu di antara mereka menjadi korban ‘pemalakan’ karena harus membayar semua bakso. Saya? Menjadi salah satu pemalak.

Mungkin karena belajar dari pengalaman kehabisan jatah bakso, beberapa keluarga atau kelompok bahkan mem-booking salah satu penjual bakso gerobak untuk datang di sebuah tempat di jam tertentu. Cerdas!

Ada kenangan lucu dengan salah satu mas penjual bakso yang sering parkir di perempatan dekat mesjid An-Nur Rappang. Pernah ketika masih kecil saya bolos tarawih hanya karena tergoda makan bakso, dan berujung perut mules. Bisa jadi karena makanan buka puasa tadi sudah terdesak oleh bakso pentolan. Saya buru-buru pulang ke rumah yang tidak terlalu jauh dari mesjid untuk BAB. Saya jadi lupa harus mengisi buku Amaliyah Ramadhan. Alamak!

Sesekali saya dan keluarga juga mabak bersama di rumah, tidak dengan nonkrong di pinggir jalan atau memberhentikan penjual bakso gerobak. Biasanya saya dan adik bertugas pergi membeli bakso. Ah sangat jelas gambaran keadaan itu, di depan rumah yang juga sebagai toko, kami akan duduk terpisah dengan duduk di kursi plastik masing-masing, bakso yang sudah kami beli menggunakan wadah yang besar semacam rantang akan dibagi tidak rata. Bapak, saya, adik pertama mendapat jatah paling banyak, sedangkan Ibu, adik perempuan dan adik bungsu mendapatkan jatah lebih sedikit. Kami hanya membeli bakso tanpa mie dengan kuah yang banyak, yang kemudian akan kami campurkan dengan mie instan, salah satu jualan toko kami.

Di kampung saya Rappang, beberapa penjual bakso sudah menetap puluhan tahun. Saya kenal beberapa dari mereka mulai dari kecil dan masih menjual bakso sampai sekarang. Anak mereka pun ada yang lahir dan besar di Rappang. Saya pernah memacari salah satu anak penjual bakso. Untuk beberapa saat saya mendapatkan jatah bakso gratis.

*

Semua ingatan di atas membuat saya sangat menginginkan bakso. Sayangnya beberapa hari belakangan keinginan mabak gagal karena beberapa hal. Ajakan mabak di grup LINE ‘Anu’ yang berisikan 6 orang sahabat langsung saya iyakan, meski sudah ada janji dengan seorang teman yang merayakan ulang tahunnya di Kios Semarang menyantap sayap-sayap patah (chicken wings). Belum lagi ban motor saya bocor saat menuju lokasi mabak di Bakso Gowa yang ada di Jl. Korban 40.000 jiwa. Malam itu saya gagal total mabak dan berakhir di coffee shop hingga tengah malam, bermain UNO sampai bercanda dengan Kim Myung seorang warga Korea yang sedang berada di Makassar untuk residensi.

Malam berikutnya, ajakan mabak dari grup LINE yang sama juga gagal saya tunaikan, lokasi mabak kali ini di Bakso Mas Prie di Jl Rappocini. Kegagalan kali ini justru karena saya tidak ingin kemana-mana, malam itu memang sudah saya niatkan untuk mulai menyusun bahan thesis.

Beberapa hari belakangan keinginan mabak gagal karena kejadian yang tidak diduga, dan tanpa saya duga keinginan itu terwujud tanpa rencana. Ketika itu saya menghadiri undangan buka puasa sebagai syukuran wisuda seorang teman, ternyata salah satu menunya adalah bakso. Tanpa pikir panjang saya langsung menghampiri meja yang menyajikan bakso.

 

Bakso ketika menghadiri undangan buka puasa

Akhirnya doa saya terjawab, tuhan mewujudkan keinginan saya makan bakso dengan tambahan 5 bungkus burasa’ dan belasan bakso yang memenuhi hampir seluruh ruang yang ada di mangkuk. Saya kalap!

*

Catatan : jika berkesempatan berkunjung atau melintas di Rappang Kabupaten Sidrap, cobalah mengunjungi beberapa warung bakso yang beberapa orang menganggapnya bakso terenak di dunia. Bakso Primadona di Jl. Jenderal Sudirman, bakso Sido Dadi di Jl. Veteran, Bakso Mas Slamet di Jl. Ahmad Taufik adalah beberapa pilihan yang bisa kamu kunjungi. Mereka penjual-penjual bakso legendaris di kampung saya.

Iklan