“Sekarang tidak masalah jenis kelaminnya, yang penting nyaman, ayok jalan” kelakar seorang teman menanggapi topik pembicaraan tentang disahkannya pernikahan sejenis di 50 negara bagian Amerika Serikat. Tulisan ini bukan untuk membahas tentang pernikahan sejenis, saya pun masih bingung bagaimana bersikap terhadap hal tersebut, karena selalu ada pembenaran di kedua sisi yang berlawanan.

Kenyamanan memang menjadi salah satu indikator penting dalam penentuan pilihan. Pasangan, pakaian, gaya hidup sampai tempat nongkrong pasti dipengaruhi oleh faktor kenyamanan. Abraham Maslow bahkan menjadikan kenyamanan sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia setelah kebutuhan fisiologis dan biologis. Nyaman adalah perasaan yang tidak bisa dipaksakan namun sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Memilih tempat nongkrong misalnya, sebuah cafe ataupun tempat berkumpul akan ramai jika orang-orang yang berada di dalamnya merasa nyaman. Setahun belakangan ada satu tempat yang membuat saya dan banyak orang lainnya merasakan ‘kenyamanan’ yang tidak kami dapatkan di tempat lain : Kedai Pojok Adhiyaksa. Sebuah kedai sederhana yang berada di salah satu pojok kecamatan Panakkukang di Jl. Adhiyaksa yang lebih akrab kami sebut ‘Kepo’ singkatan dari kedai pojok.

Kepo sendiri adalah sebuah cafe yang sangat sederhana. Dengan memanfaatkan halaman kosong di samping hunian pribadi, sebuah atap berbentuk prisma dibangun untuk menaungi ruangan berukuran sekitar 7×15 meter dengan tegel putih tanpa motif sebagai lantai. Konsep Kepo sendiri adalah kedai semi terbuka yang tidak memiliki dinding di sisinya sebagaimana cafe pada umumnya. Desain interiornya pun jauh dari kata mewah, hanya ada puluhan kursi rotan yang mengelilingi belasan meja persegi yang tersebar dalam ruangan tersebut. Beda jauh jika ingin dibandingkan dengan banyaknya tempat nongkrong yang bermunculan di Makassar akhir-akhir ini yang memberikan sentuhan kreatif atau desain interior yang mewah untuk menarik pelanggan.

 

Kedai Pojok Adhiyaksa.
 
Kepo bisa dibilang adalah cafe multifungsi, selain menjadi tempat menikmati suguhan makanan dan minuman khas cafe seperti jus aneka buah, teh, kopi, nasi goreng sampai sanggara peppe’, tempat ini sering dijadikan tempat pertemuan, rapat, seminar kecil bahkan sampai perayaan ulang tahun organisasi/komunitas. Beberapa orang bahkan menganggapnya sebagai ‘kantor’.

Suasana dan kondisi-kondisi itu yang membuat saya dan banyak teman lainnya merasa nyaman menjadikan Kepo sebagai tempat nongkrong. Tidak salah kalau hampir setiap hari Kepo diisi oleh wajah-wajah yang sama. Kondisi ini memudahkan saya jika ingin mencari pergaulan, tinggal datang ke Kepo saya pasti akan ketemu minimal 2 orang yang saya kenal. Keramahan pemilik dan pelayan Kepo juga punya andil dalam hal kenyamanan yang kami rasakan. Berada di zona nyaman membuat kami susah Move On ketika Kepo tutup selama bulan puasa sampai setelah lebaran.

Kebingungan mencari tempat nongkrong sangat terlihat pada KPK (komunitas Penghuni Kepo) sebutan untuk orang-orang yang sering nongkrong di Kepo. Entah siapa yang memulai istilah itu, namun memang sangat berdasar sesuai dengan  yang saya jelaskan sebelumnya. Beberapa tempat sempat dijajaki untuk mencari ‘nyaman’ yang hilang itu, munafik jika kami mengatakan sudah menemukan tempat pengganti Kepo. Berpindah dari satu coffee shop ke coffee shop lainnya kami berusaha menyamankan diri namun tetap ada rasa yang mengganjal di hati seperti masih ada rindu yang tidak terselesaikan.

Dengan nada bercanda Iqbal teman saya yang selalu kelihatan ceria bahkan sempat berkomentar “Demo deh supaya Kepo buka lagi, kalau begini bingungki dimana mau kumpul-kumpul”. Beda lagi Januar, di hari ke 7 Kepo tutup dia sempat menuliskan status “Masih mencari tempat nongkrong penganti Kepo” –saya kutip lengkap dengan typo-nya. Saya juga tidak bisa membohongi perasaan kehilangan karena Kepo tutup, masih selalu terbayang nasi goreng pedas, tempe goreng plus sambal tumis khas Kepo.

line januar

Bulan puasa kali ini bukan hanya mengharuskan kami menahan hawa nafsu, lapar dan dahaga tapi juga memaksa kami menahan nafsu nongkrong, lapar nasi goreng dan dahaga air es gratis Kepo. kehilangan selalu meninggalkan bekas tak berbentuk, saat ini kami kehilangan ‘Nyaman’.

Iklan