Mendengar kata jigsaw pada sebagian orang mungkin akan memikirkan sebuah film thriller berseri yang berjudul ‘Saw’. Dalam film ini ada satu tokoh bertopeng yang antagonis, seorang pembunuh berantai bernama Jigsaw. Beda dengan pembunuh lainnya Jigsaw justru tidak membunuh korbannya secara langsung, korban terpilih akan ditempatkan dalam sebuah jebakan maut.

Jebakan yang dibuat adalah jebakan yang akan memotong anggota tubuh korban. Keberhasilan jebakan tergantung bagaimana korban secara aktif meloloskan diri dengan cerdik. Terdesak oleh waktu, korban akan mencari segala cara meloloskan diri dari jebakan, tidak jarang korban terbunuh dalam usaha meloloskan diri.

Jigsaw Killer
Jigsaw Killer
Sebagian orang lagi mungkin akan langsung memikirkan tentang sebuah permainan, permainan Jigsaw Puzzle. Permainan ini cukup populer dikenal dengan nama Puzzle. Jigsaw Puzzle adalah permainan menggabungkan kepingan-kepingan gambar. Gambar yang utuh dipotong sedemikan rupa yang pada awalnya dibuat menggunakan gergaji, alasan kenapa permainan menggunakan kata Jigsaw (gergaji). Pemain harus aktif menemukan potongan yang tepat untuk dibentuk menjadi gambar yang lengkap.

JIgsaw Puzzle
JIgsaw Puzzle
Beberapa orang lainnya terutama mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan akan berpikir tentang sebuah metode pembelajaran aktif yang juga menggunakan kata Jigsaw. Metode pembelajaran yang pertama kali diperkenalkan oleh Elliot Aronson pada tahun 1975.  Dalam metode Jigsaw, peserta didik ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil kemudian disebut kelompok asal, kemudian digabung dalam kelompok ahli.

Tiap anggota dalam kelompok asal diberi materi yang sama dan harus dikuasai. Tahap selanjutnya, tiap anggota kelompok dari kelompok asal bergabung bersama perwakilan kelompok asal lainnya. Kelompok inilah yang disebut kelompok ahli. Masing-masing anggota kelompok asal akan memaparkan materi di kelompok ahli secara bergantian. Proses inilah yang menjadi dasar metode ini disebut Jigsaw.

Metode Jigsaw
Metode Jigsaw
Tiga hal berbeda yang menggunakan kata yang sama di atas memiliki persamaan mendasar, yaitu AKTIF. Entah itu dalam tragedi jebakan maut, permainan gambar ataupun metode pembelajaran. Keaktifan adalah hal yang ingin ditonjolkan. Metode pembelajaran Jigsaw misalnya akan membuat peserta didik lebih berperan aktif dan bertanggung jawab terhadap materi yang diberikan serta mengurangi peran guru atau dosen sebagai penceramah di depan kelas  yang kadang membuat murid hanya menjadi pendengar pasif.

Adalah Nurhaya Nurdin, seorang dosen yang pertama kali mengenalkan metode ini kepada saya. Ners Aya (Ners : gelar profesi keperawatan) begitu kami memanggilnya adalah dosen yang sangat inspiratif, selalu berhasil membawakan materi kuliah dengan menyenangkan. Dosen yang menyelesaikan pendidikan strata dua di University Of Sheffield ini memiliki pembawaan yang ceria, sesekali mengajak mahasiswa belajar di luar kelas dan menggunakan metode pembelajaran yang berbeda. Beberapa kali saya merasakan sendiri metode pembelajaran Jigsaw yang dibawakan Ners Aya.

Berdasarkan pengalaman itulah, saya yang setahun terakhir juga mengajar di salah satu sekolah keperawatan ingin sesekali mencoba menggunakan metode jigsaw. Namun mengajar di kelas reguler agak repot menggunakan metode ini karena jumlah mahasiswa yang banyak dalam satu kelas. Untungnya tak lama ini gayung bersambut, saya menemukan waktu yang tepat untuk menerapkannya. Berawal dari  kepercayaan mengasuh salah satu mata kuliah SP (semester pendek) dengan hanya 25 orang mahasiswa. 8 pertemuan di kelas saya gunakan untuk menjelaskan beberapa materi di sela-sela diskusi kelompok mahasiswa, rencananya kelompok dalam kelas inilah yang juga menjadi kelompok asal untuk penerapan Jigsaw.

Pertemuan terakhir saya rencanakan hari selasa 30 Juni 2015. Saya berusaha membawa kelas dalam suasana berbeda dan meminta mahasiswa untuk bertemu di pinggir danau Universitas Hasanuddin. Mereka tiba duluan di lokasi pertemuan, saya yang datang agak belakangan langsung meminta mereka berkumpul. Saya yang hari itu mencoba berpakaian santai dengan tidak mengancingkan kemeja flanel yang saya pakai  memulai penjelasan kalau masing-masing mahasiswa mendapatkan waktu 10 menit menjelaskan materi kelompok asal dan 5 menit untuk tanya jawab.


Terbagi atas 3 kelompok ahli mereka memilih duduk di dekat pohon-pohon besar yang ada di pinggir danau. Dengan cekatan mereka memulai membuka poster atau membagikan leaflet yang telah mereka siapkan sebelumnya. Kelas kini berlangsung dengan rimbunnya pohon sebagai atap, rumput dan dedaunan kering sebagai lantai serta suara kendaraan maupun suara orang berbicara dari kejauhan sebagai musiknya. Saya membuka format penilaian dan menuliskan angka untuk memberikan penilaian secara individu.



 Perasaan senang tergambar dalam ekpresi mereka, sesekali muncul senyum merekah dari wajah mereka dari ketika salah satu temannya mencoba mengabadikan gambar. Memang saya tidak melarang mereka untuk saling mengambil gambar secara bergantian, tapi tidak boleh mengganggu jalannya diskusi. Sayapun demikian, mengambil gambar dari berbagai sudut dan terkadang lupa kalau saat itu adalah proses belajar mengajar.

Proses belajar mengajar saat itu, saya anggap berhasil. Berhasil karena kami menyatu dengan alam sambil mencoba memasukkan ilmu ke dalam kepala. Kami juga berhasil menemukan sedikit kebahagiaan dengan berbaur dengan alam, saya bahkan lupa harus memberikan penilaian kepada mereka. Ya sudah, sore itu saya memang ingin mengajak mereka keluar dari kebiasaan mereka belajar di dalam kelas. Andai saja saat itu bukan hari bulan puasa, pasta saya meminta mereka menyiapkan kue dan minuman segar semabri menggelar tikar ala-ala piknik.

6 materi kelompok asal selesai dibawakan dalam waktu kurang lebih 90 menit, salah satu keunggulan Metode Jigsaw adalah dapat membawakan banyak materi dalam waktu yang relatif singkat.


    Janji kepada teman untuk berbuka bersama langsung teringat ketika saya melihat jarum jam sudah menunjukkan angka 16.30. Sekali lagi saya mengumpulkan mereka untuk evaluasi kegiatan sore itu, tak lupa kami berfoto bersama sebelum akhirnya mereka meninggalkan lokasi dan menuju kediaman masing-masing. Saya memacu motor ke rumah teman untuk berbuka bersama.

Menggunakan metode Jigsaw  mengajarkan peserta didik lebih aktif dan bertanggung jawab terhadap materi yang dibebankan dan memang seharusnya belajar itu menjadi hal yang menyenangkan. Mungkin saya akan memilih topik ini untuk penyusunan Thesis.

Iklan