“Kolak pisang mama, membawa rasa dan romansa masa kecil di rumah, pulanglah jika sempat”.

Entah ada angin apa percakapan di grup LINE ‘Anu’ tiba-tiba dimulai dengan kalimat seperti itu. Grup Line Anu adalah grup saya bersama 6 orang sahabat, kebingungan mencari nama untuk grup akhirnya terpilih kata Anu, alasannya sepele karena mampu mewakili banyak hal. Seperti arti sahabat, mampu menjadi apapun untuk sahabat-sahabatnya.

Ayus yang memulai membuka percakapan malam itu, disambut cerita-cerita berbau nostalgia dari sahabat lainnya. Saya yang kemudian mengambil alih dan bertindak layaknya moderator dalam sebuah diskusi dengan memberi pertanyaan-pertanyaan terbuka. Pertanyaan seputar kerinduan akan kampung halaman, makanan favorit di kampung sampai pertanyaan tentang orang-orang unik di kampung masing-masing.

Adalah Ayus Hendra Mangka yang akrab kami panggil Ayus, laki-laki berkacamata ini sering juga kami panggil pak RT, dialah yang sering memberikan usulan tidak masuk akal namun selalu berhasil menyakinkan kami mengikuti usulannya. Setiap bulan Ramadhan seperti ini dia selalu ingat dengan Wa’ Semmang, imam salah satu kampung  di Kab. Soppeng.

Rinduka sama Wa’ Semmang, imam desa kampung yang khas sekali nuansa Ramadhan kalau doski mappasempajang -memimpin shalat- jadi ingat semua teman-teman kecilku bahkan ada yang sudah almarhum, kita suka paccobi-cobi sama Wa’ Semmang kasihan. Alhamdulillah dengar kabar tahun ini Wa’ Semmang akan menunaikan haji”. Ayus melanjutkan bercerita tentang satu makanan yang menjadi favorit para lelaki di keluarganya dari generasi ke generasi, kolak pisang kepok tanpa santan. Kolak tanpa santan?

Beda lagi dengan Muhammad Rezky Iryansyah, Selain sering dipanggil dengan nama Eky, dia dia juga sering dipanggil ‘Lebba Lekke’ julukan untuk punggungnya yang lebar. Kalimat pembuka Ayus di grup langsung membawa ingatan Eky akan Ibunya yang telah meninggal 3 tahun lalu “Sayangnya di rumah sudah tidak ada yang bisa dipanggil ibu”, Katanya..

Pria yang memiliki codet di pipi kanannya ini melanjutkan bercerita kalau dia sudah kehilangan kampung sejak 3 tahun lalu sejak rumah di kampung disewa oleh Alfamart untuk 5 tahun ke depan. Sekeluarga mereka kini menetap di Makassar. Menurutnya pulang kampung harusnya berkumpul bersama keluarga, tapi apalah artinya  pulang ke kampung kelahiran di Rappang Kab. Sidrap jika tidak  ada orang tua di sana. Semenjak mendapatkan perintah penempatan kerja di Tarailu kecamatan Mamuju, pulang kampung bagi Eky berarti kembali ke pelukan Ibukota. Bagi saya dimanapun saya pergi, rumah dan keluarga adalah kampung bagi saya”. Pungkasnya.

Kemudian ada Iqrawan Bakti, orang paling simple yang pernah saya temui. Iqra, begitu kami memanggilnya. Simple dan tidak banyak bicara adalah ciri khasnya, jika diajak keluar bareng dia sering menjawab : sembarang ji saya, dengan ekpresi datar. Pun demikian ketika dia mulai tertarik berkomentar dengan topik pulang kampung yang sedang kami bahas. Dia hanya menyela dengan ucapan, “pulang kampung itu lisu rikampongnge, rinduka’ main bola depan rumahku di Sinjai”.  Setelah menuntaskan curahan hati tentang kerinduannya bermain bola di kampungnya, dia menghilang begitu saja, tak lagi berkomentar. Mencoba ikut-ikutan berpikir simple, saya hanya berpikir mungkin dia lagi lelah menahan rindu dengan istrinya yang terpaut jarak Makassar-Palu, padahal baru dua minggu lalu mereka duduk di pelaminan.

Satu-satunya “mahluk halus” di grup adalah Sukmawati Soekarno. Dia memiliki nama panggilan yang sama sekali tidak ada korelasi dengan nama aslinya: Cupu. Perempuan yang sudah bersuami ini serasa menjadi anak kecil kembali ketika berada di kampung. Maklum, dia bakalan ketemu dengan orang-orang yang ikut membesarkannya saat masih kecil. Di kampung dia suka bermanja-manja dengan minta dibelikan jajanan masa kecilnya.

“Setiap pulang kampung selaluka’ cari ‘Benno’, you know Benno? Itu loh popcornnya orang bugis, yang di kampungku penjualnya masih eksis mulai dari SMP ka’ sampai sekarang tuami masih adaji nongkrong di pasar dekat rumah tiap hari minggu”. Katanya

Nah, berikutnya adalah sahabat yang selalu membuat saya geli kalau menceritakannya. Sadahi Wahid namanya, namun dia akrab dipanggil Shaden. Si lelaki penghibur, selalu mampu menghadirkan tawa dalam tindakan maupun bicaranya. “Saya  bingung mengkategorikan pulang kampung itu kek gimana? Dari kecil sampai SMA di Mamuju, ortu domisili di Mamuju Utara, tapi tiap mau lebaran balik ke Gowa.” Katanya.

Ketika ditanya kok bisa sampai dia menyelesaikan kuliah di Makassar? Dia hanya menjawab Ndak taumi, mungkin orang tua saya sudah lelah.Kemudian komentar ngawur khas Shaden mulai keluar, komentar yang tidak bisa saya tuliskan di sini. Saya tertawa sampai mengeluarkan air mata.

Yang terakhir Akbar, sampai tulisan ini dibuat dia belum mengeluarkan komentar satupun. Terkadang memang membingungkan menghadapi sahabat yang satu ini. Mungkin bisa dibilang dia orangnya moody terkadang kurang peka terhadap situasi sekitar sampai-sampai kami sepakat memberikannya julukan “sahabat batu”.

Bagi saya pulang kampung selain melepas rindu dengan keluarga, juga berarti menikmati makanan yang hanya bisa saya dapatkan di Rappang kampungku. ada dua makanan yang tidak pernah saya lewatkan ketika di kampung, burasa dengan sambal pepaya dan putu beras ketan dengan sambal taiboka. mungkin di tulisan berikutnya saya akan menulis khusus tentang dua makanan itu.

Pulang kampung pada hakikatnya kembali ke tanah kelahiran, namun tiap orang mempunyai cara tersendiri memaknai pulang kampung. Berkumpul bersama keluarga dan menjadi diri sendiri di tengah keluarga adalah arti pulang kampung sebenarnya. Kalau menurut kamu?

Para sahabat

Iklan