…Nomaden manusia modern 1

Ajakan serumah dengan 7 laki-laki tanggung teman se-angkatan saya iyakan tanpa pikir panjang. Berpindahlah saya untuk kesekian kalinya, kali ini benar-benar meninggalkan kompleks perumahan BTP. Awal 2011 saya bersama enam orang lainnya tinggal seatap di perumahan BTN Dewi Kumala Sari Blok C4/x, Sanrangan Daya. Dari semua tempat yang pernah saya tinggali, di sinilah semua cerita tercipta, di bawah atap rumah dengan dua kamar, ruang tamu 4×4 yang lebih sering jadi ruang tidur merangkap ruang makan.

dua kamar yang ada di rumah itu merupakan kamar bersama, tidak ada pemilik sah. Siapa saja yang tidur lebih awal, dialah pemilik kamar malam itu. Beberapa lainnya terpaksa merebahkan diri di depan tivi beralaskan karpet di ruang tamu 4×4, tak jarang ada yang harus bersusah payah mencari celah diantara badan yang jiwanya sudah di alam mimpi. Keadaan ini tidak berlangsung setiap hari, terutama jika jadwal shift kami tidak bersamaan.

Bulan April 2012, untuk kedua kalinya saya hadir dalam acara wisuda. Hari itu saya dan ratusan teman lainnya mengangkat sumpah, sumpah sebagai perawat professional. Momentun itu juga yang akhirnya memisahkan kami, tujuh laki-laki tanggung dalam satu atap. Terdesak oleh tuntutan pekerjaan dan keinginan memiliki penghasilan sendiri, mengharuskan beberapa kawan hijrah ke kota lain atau kembali ke kampung asal, mengabdi di tanah kelahiran.

Satu persatu raga mereka meninggalkan meninggalkan Makassar, meninggalkan saya sendiri bersama kenangan tak terlupakan dalam ‘gubuk’ yang pernah kami huni bersama. Panggilan mengajar di almamater sendiri membuat saya mau tidak mau, menetap lebih lama di Ibu kota provinsi. Selama lima bulan, hanya seorang diri ‘jaga kandang’ di rumah itu. Barulah ketika adik perempuan saya pun hijrah ke Makassar, saya memutuskan pindah dengan alasan jarak.

Setelah beberapa hari mencari rumah kontrakan, akhirnya ketemu sebuah rumah yang masa kontraknya akan segera berakhir. Jarak yang dekat dengan kantor dan kampus adik saya menjadi pertimbangan utama memilih rumah ini. Perumahan Dosen Unhas Blok AG No. Xx menjadi rumah kelima yang saya tempati. Periode 2012-2013 ini hidup saya agak monoton. Jalur kantor, kampus adik dan rumah yang segaris membuat saya banyak menghabiskan waktu di lingkungan itu- itu saja.

Tidak cukup setahun berada di rumah ini, saya merasakan ketidaknyaman yang membuat saya ingin berpindah lagi. Bagaimana tidak, dalam rentang waktu dua bulan saja dua kali juga rumah ini dibobol pencuri. Membawa lari mesin air dan tabung gas tiga kg. Memang tidak ada yang bisa mereka ambil selain kedua benda itu.

Keinginan pindah rumah itu saya utarakan kepada bos sembari mengeluh karena dua kali kemalingan. Tidak disangka-sangka bos saya menawarkan bantuan yang tidak mungkin saya tolak, beliau menawarkan saya menempati rumah yang baru dia beli. Spontan pelukan saya jatuhkan kepada bos yang berbadan bongsor itu, tentu saya tidak akan melewatkan kesempatan ini. Jadilah saya hidup nomaden untuk kesekian kalinya, kali ini berpindah ke rumah yang agak mewah dengan desain yang agak modern dan bertingkat dua pula. Padahal saya hanya akan tinggal bersama adik perempuan saya.

Rumah kali ini adalah rumah terbesar yang saya tempati sekaligus yang paling singkat yang pernah saya ‘tiduri’. Hanya lima bulan (September 2014 – Maret 2014) berada di rumah yang berlokasi di depan Makassar Town Square (M’Tos) ini, Kompleks perumahan Puri Asri namanya. Saking barunya, rumah yang saya tempati ini bahkan belum memiliki blok dan nomor rumah. Entah kenapa, tiba-tiba bos ingin menempati rumahnya yang satu ini, padahal beberapa rumah yang dia miliki tersebar di beberapa titik di Makassar.

Tidak membiarkan saya dalam kebingungan berkepanjangan, bos menawarkan kembali rumah miliknya yang berada di daerah lain. Saat itu saya sempat menolak dengan dalih biarkan saya mencari kontarakan sendiri dulu, meski pada akhirnya saya harus memilih menerima tawaran bos. Terdesak waktu dan permintaan bos yang merasa tidak enak kepada saya, harusnya saya yang merasa tidak enak.

Akhir Maret 2014 untuk yang ketujuh kalinya, saya berpindah dari hunian yang satu ke hunian yang lainnya. Kepindahan saya sebelumnya tidak pernah serepot ini, beberapa perabot yang sudah saya miliki seperti lemari besar, kasur, lemari es dan mesin cuci memenuhi mobil bak terbuka menuju rumah baru. Sebelumnya untuk berpindah saya hanya butuh satu motor karena saya hanya membawa tas ransel dan kasur busa. Hanya itu barang-barang yang saya miliki.

Maka tibalah saya disini, di hunian ke tujuh di tahun ke sembilan saya berada di Makassar. Sudah dua kali perayaan ulang tahun saya berlangsung di rumah ini. Di rumah yang cukup luas untuk saya tempati berdua adik perempuan saya. Perumahan Nusa Tamalanrea Indah (NTI) Blok FJ No. 4 adalah alamat saya sekarang. Tempat saya merebahkan diri dari lelah yang mendera, dari galau yang saya rasa, tempat saya menorehkan kisah dalam tulisan ini.

Apakah ini hunian terakhir saya? Apakah kisah nomaden saya akan berakhir disini? Jawabannya TIDAK! Suatu saat entah kapan, di suatu hari yang biasa, saya bersama barang-barang ini akan berpindah ke suatu hunian baru, menambah daftar panjang perjalanan nomaden di Ibu kota.

Pengalaman tujuh kali berpindah tempat mengajarkan saya suatu hal. Seperti halnya berpindah hati, saat pindah rumah kamu harus rela meninggalkan kenangan di rumah sebelumnya kemudian menata hati untuk rumah baru dan kejadian-kejadian tak terpetakan di kemudian hari.

Pindah sama halnya dengan pergi, dan setiap kepergian selalu menyisakan kehilangan. Satu-satunya kepastian dalam hidup ini adalah ketidakpastian, namun kehilangan adalah sesuatu yang pasti. Tinggal menunggu giliran kapan kehilangan menghampiri. Saya percaya kehilangan tidak selalu meninggalkan kesedihan, bukannya lebih baik kehilangan daripada bertahan dan menyiksa batin?.

Bersiaplah untuk pergi dan berdamai dengan kehilangan.

 

Iklan