Waktu mudik selalu ditunggu bagi para perantau, saat dimana lepas dari pekerjaan kantor dan bisa pulang ke kampung kelahiran. Selain rasa rindu kepada orang tua, banyak kenangan masa muda yang selalu menarik untuk ditapaki kembali. Mudik berarti bertemu dengan keluarga, kawan lama, tetangga, bahkan bisa saja mantan. Bukan hanya kenangan yang membuat rindu akan kampung, masakan ibu atau jajanan yang hanya bisa didapat di kampung juga punya andil dalam membentuk unsur kerinduan.

Saya pun demikian, setiap pulang kampung pasti akan mencari jajanan atau makanan tradisional yang ketika sekolah dulu bisa saya dapatkan setiap harinya. Beberapa diantaranya seperti burasa’ dan sambala kaniki (sambal pepaya mengkal), Nasu Palekko, Pisang Ijo, Sanggara Belanda, Putu dan lain-lain. Namun, ada satu jajanan yang agak susah saya dapatkan di Makassar, yaitu putu. Jajanan satu ini sepanjang ingatan saya, mulai dari SD sampai SMA sering sekali menjadi sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Jajanan satu ini tidak akan saya lewatkan ketika berada di kampung.

Putu yang mungkin sering kita jumpai adalah sejenis kue beras ketan yang tengahnya berisi gula jawa dan ditaburi kelapa parut, mengeluarkan bunyi seperti siulan hasil dari tekanan uap yang melewati lubang bambu (sekarang banyak yang menggunakan pipa) sebagai ciri khas dan alat promosinya. Putu ini hanya bisa ditemui sore atau malam hari, alasan kenapa putu ini disebut juga putu malam. Asal kata putu sendiri berasal dari Jawa : Puthu.

Putu Malam (putu dari Tanah Jawa). Sumber foto : Jejalan.com
Putu Malam (putu dari Tanah Jawa). Sumber foto : Jejalan.com

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Putu di tanah bugis beda dengan Putu di Tanah Jawa, Putu versi Bugis tidak menggunakan gula. Putu dimakan dengan taburan parutan kelapa dan sambal tai boka’ (ampas dari hasil pembuatan minyak kelapa asli), putu ini biasanya dijual di pagi hari sebagai pengganti sarapan yang praktis. Meski proses pembuatannya hampir sama, namun rasanya jauh berbeda. Putu di Bugis juga menggunakan uap panas sebagai proses pemasakan putu sampai matang.

Mula-mula tepung beras ketan kasar yang telah tercampur dengan pandan, dimasukkan ke dalam bambu/pipa sampai penuh, kemudian dimatangkan di atas tungku kaleng yang telah dilubangi sebelumnya, tungku kaleng di dalamnya terdapat air mendidih yang menghasilkan uap. Bambu atau pipa yang menjadi cetakan dibalut dengan kain agar bisa menutupi semua lubang di tungku, kain ini juga akan memaksa uap panas mencari celah diantara tepung beras yang berada dalam cetakan bambu. Proses pematangan akan berlangsung setengah sampai satu menit dalam cetakan, uap panas yang keluar dari cetakan adalah penanda matangnya putu.

Putu yang sudah matang kemudian dikeluarkan dari cetakan di atas parutan kelapa muda, parutan kelapa akan melengket menutupi bagian luar putu. Putu yang sudah selesai dibungkus menggunakan daun pisang, satu bungkus berisi 4 buah putu yang dijual seharga dua ribu rupiah. Jika dihitung perbuah berarti lima ratus rupiah perbuahnya. Sentuhan terakhir sisa menyertakan sambal taiboka yang telah ditumbuk halus bersama beberapa cabai untuk mendapatkan sensasi pedas.

Putu Beras Ketan
Putu Beras Ketan (Khas Tanah Bugis)

Mudik lebaran kali ini, pasti akan saya manfaatkan untuk menikmati putu lagi. Kebetulan waktunya pas, putu di kampung saya, bisa ditemui di Pasar Sentral Rappang Kab. Sidrap. Hari pasar di Rappang hanya berlangsung 3 hari dalam seminggu, yaitu hari selasa hari jumat dan hari minggu. Meski lebaran jatuh pada hari jumat, masih ada waktu menikmati putu di hari minggu.

Penjual putu di Pasar Sentral Rappang, berada di dalam kompleks utama pasar sayap timur. Diapit oleh penjual ikan penjual beras, penjual putu tidak berada di kios atau warung tapi berjualan di lorong pasar. Penjual serta tungku kaleng dan semua bahan pembuat putu berada dalam satu tempat di atas ladda’ (balai-balai kecil dari bambu) berukuran 2×2 meter. Untuk mendapatkan putu anda harus rela berdesakan pun bergesekan dengan pengunjung pasar lainnya, karena tidak disiapkan kursi untuk duduk, kebanyakan orang membawa pulang putu yang dibeli.

Penjual putu di Pasar Sentral Rappang
Penjual putu di Pasar Sentral Rappang

Adalah Bu Lija nama penjual putu di Pasar Sentral Rappang, sudah 13 tahun terakhir Bu Lija menjual putu. Setelah Ibunya meninggal, ia melanjutkan menjual putu di pasar sebagai tambahan penghasilan suami yang bekerja sebagai PNS. Dari gaji suami dan hasil menjual putu, dua anak mereka sudah mengecap pendidikan di bangku kuliah, si bungsu pun sekarang sudah duduk di bangku SD kelas 5.

Putu yang dibuat Ibu Lija sama sekali tidak menggunakan pewarna, menurut penuturan Ibu Lija sendiri. Warna hijau yang didapatkan, berasal dari daun pandan yang dicampurkan ketika membuat tepung. Putu yang berwarna hijau terang bisa jadi karena menggunakan pewarna buatan, memudahkan kita untuk membedakan putu dengan pewarna alami dan pewarna buatan.

Penjual Putu di Pasar Sentral Rappang
Penjual Putu di Pasar Sentral Rappang

Rasa putu buatan Ibu Lija tiada duanya, legitnya beras ketan yang dimatangkan oleh uap berpadu dengan aroma pandan menyatu dalam lidah. Ditambah rasa sambal tai boka’ yang gurih melengkapkan cita rasa khas putu, kemudian sentuhan tradisional dengan menggunakan daun pisang sebagai pembungkusnya. Semua kenikmatan itu bisa didapatkan hanya dengan merogoh kocek sebesar dua ribu rupiah.

Bisalah saya bilang, tak lengkap rasa pulang kampung jika belum menikmati sebungkus dua bungkus putu. Kalian yang berkesempatan berkunjung ke kampung saya, sempatkanlah menjajal kenikmatan putu ini.

Iklan