Karet gelang berwarna merah yang saya dapati di bawah bangku taman, kini bermain di jemari, menyilang kanan-kiri atas-bawah hingga berwujud sebuah bentuk, kubus, bintang, ketapel sampai bentuk menara Eifell. Permainan masa kecil yang sempat membuat saya tenggelam dalam masa lalu.

Tiga puluh menit berlalu sejak saya disini, di salah satu dari sedikit ruang terbuka hijau di kota ini. Taman ini cukup ramai di sore hari, selain diperuntukkan sebagai tempat berolahraga, beberapa keluarga memanfaatkan taman ini untuk piknik sederhana. Di sudut timur taman nampak sebuah keluarga kecil yang terdiri dari suami, istri, dan dua anak mereka. Mereka duduk santai sembari bercengkrama satu sama lain dengan beberapa makanan ringan yang digelar di atas tikar plastik. Sungguh potret keluarga yang harmonis. Dari pakaian yang mereka kenakan, saya berasumsi mereka adalah keluarga yang menganut agama islam dengan baik, anak gadis mereka yang kira-kira baru berusia tiga tahun sudah dibiasakan menggunakan hijab seperti yang dikenakan Ibunya.

Mencoba menikmati suasana sore di taman, saya sandarkan punggung di bangku taman yang nampak lapuk termakan usia dan cuaca, lusuh dan tak terawat. Beberapa sudutnya pun sudah cacat menampakkan warna asli kayu. Saya sedang menyaksikan awan di langit yang bergerak dan berubah bentuk mengikuti arah angin ketika dia datang. Perempuan yang berhasil mencuri hatiku dan memenjarakannya dalam waktu yang relatif singkat.

β€œAduh maaf telat, jalan agak macet karena ada perayaan Muktamar, sudah lama menunggu sayang?” saya hanya membalasnya dengan senyuman, saya cukup terpana untuk membalasnya dengan kata-kata. Terpana dengan salah satu karya sublim tuhan, rambut panjang yang dia biarkan terurai, bulu mata lentik, mata indah bola pingpong serta senyum merekah yang bisa meruntuhkan ideologi seorang filsuf. Belum lagi cara berdandan dan berpakaian yang sederhana, namun tetap menampilkan keanggungannya sebagai perempuan. Tidak habis rasanya kekaguman untuk dirinya, dan dari semua yang bisa kulakukan padanya saya paling senang membelai rambut panjangnya.

Pada bangku taman yang lapuk, dia kemudian duduk cukup rapat hingga tak menyisakan ruang di antara kami. Sambil membelai rambutnya, Saya merangkulnya untuk mempertahankan posisi itu. Kepalanya bersandar di pundak saya, seperti sebuah isyarat dia suka posisi ini. Dia pun mulai bercerita seperti biasanya, pertemuan seperti ini pasti akan didominasi oleh dia. Saya cukup menjadi pendengar, sambil sesekali melemparkan senyuman tanda paham. Perbincangan atau lebih tepat monolog dimulai dengan curhatan dia tentang tugas mata kuliah psikologi yang susah dia kerjakan, teman kuliah yang punya masalah dengan keluarga, isu kekinian tentang gender yang lagi heboh di Amerika, hingga hal sepele seperti warna kabel charge yang baru-baru saya beli, menurut dia harusnya saya membeli kabel charge yang original meski harganya lebih mahal daripada membeli kabel charge palsu dengan harga lebih murah tapi cepat rusak juga.

Seandainya saja pagi belum menjemput dan saya harus berangkat kerja. Mungkin kita akan berbincang lebih intim, mungkin kita akan bertindak lebih intim lagi. Ahhh mimpi yang indah.

Iklan