Anak mana yang tidak ingin membahagiakan orang tuanya, membuat mereka bangga dengan prestasi, jabatan, karir tentu pernah terlintas di kepala semua anak. Salah satu cara membahagiakan orang tua adalah dengan memenuhi harapan mereka, entah itu harapan tentang prestasi, karir, maupun jodoh. Namun seringkali harapan orang tua tidak sejalan dengan pemikiran anak, seringkali harapan dari orang tua merupakan perwujudan harapan masa lalu mereka yang tidak terwujud atau merupakan perwujudan harapan dari tekanan-tekanan sosial. Hal ini terjadi kepada saya ketika akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kuliah.

Sebagai anak pertama (sekaligus cucu pertama) harapan besar seperti membebani pundak saya, tentu saja orang tua, kakek-nenek atau sebut saja keluarga besar ingin melihat anak-cucu-ponakannya lebih baik dari mereka ; di keluarga bapak hanya satu tante saya yang menyandang gelar sarjana, di keluarga Ibu tak ada satupun yang menyandang gelar sarjana. Sebagian besar keluarga dari bapak dan ibu adalah petani, beberapa diantaranya berjualan barang kebutuhan sehari-hari di pasar sentral, itupun hanya menempati kios-kios kecil seperti ratusan kios lainnya. Salah satu jalan untuk menjawab harapan itu dengan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Pertengahan tahun 2006, pendidikan SMA saya selesaikan dengan cukup memuaskan. Nilai Ujian Akhir Nasional yang saya dapatkan berada di atas rata-rata. “patterrui sikola mu nak” kata-kata pengharapan yang diucapkan bapak agar saya melanjutkan sekolah, girang bukan main saya pada saat itu yang dari awal memang ingin sekali melanjutkan kuliah, Apalagi ada gengsi yang memenuhi kepala saya melihat teman sekolah akan melanjutkan kuliah juga. Belum lagi gengsi orang tua melihat anaknya sukses agar bisa mengangkat derajat keluarga di mata masyarakat

Persoalan gengsi dalam menyekolahkan anak bukan hal yang baru di kampung saya, beberapa orang tua rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit demi melihat anaknya kuliah di tempat yang konon katanya sudah jelas masa depannya. Meski harus melalui jalur khusus yang bisa dibilang curang. Salah satu sekolah yang diagungkan-agungkan adalah STAN (Sekolah Tinggi Administrasi Negara), sebuah institusi pendidikan tinggi di bawah binaan kementeriaan keuangan. Lulusan  sekolah ini sudah pasti mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan, kalau sudah bekerja ‘biaya’ yang dikeluarkan pun akan kembali dengan mudah. Setidaknya seperti itu persepsi yang berkembang sehingga menjadiakan STAN seperti pintu harapan menuju hidup yang lebih baik.

Entah mana yang punya pengaruh paling besar membentuk keinginan saya untuk kuliah, membagiakan orang tua? harapan keluarga? Gengsi? Atau memang saya ingin menuntut ilmu lebih jauh?, yang jelas faktor-faktor itulah yang bercampur menjadi satu kemudian muncul dalam bentuk keinginan yang menguasai raga dan pikiran saya. Saya harus lanjut kuliah.

Konflik kemudian muncul ketika akan memutuskan jurusan mana yang akan saya pilih. Saat itu saya sangat tertarik dengan jurusan ilmu komunikasi dan Jurusan hubungan internasional, agak kontradiktif dengan jurusan IPA yang saya jalani di SMA mengingat dua jurusan yang saya minati termasuk dalam golongan kelompok IPS. Orang tua khususnya Ibu, dari awal ingin saya mengambil jurusan kesehatan, karena mengingat biaya kuliah kedokteran hanya akan menambah beban ekonomi keluarga, maka pilihan jurusan keperawatanlah yang sangat mungkin.

Entah berapa kali saya harus berdebat dengan Ibu tentang pemilihan jurusan, masing-masing mengeluarkan argumen dan alasan untuk jurusan yang dipilih. Beberapa tetangga yang sudah bekerja sebagai perawat, peluang kerja yang terbuka lebar dan kebutuhan tenaga perawat yang tidak pernah habis menjadi alasan alasan pamungkas Ibu. Saya yang hanya bermodalkan minat dan keinginan dalam menentukan jurusan bingung bagaimana harus menyakinkan mereka.

Mencoba win-win solution, saya menawarkan kesepakatan dengan Ibu. Saya akan mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dengan jurusan yang saya minati tapi apabila tidak lulus seleksi maka saya akan menerima pilihan Ibu tanpa perlawanan. Ibu setuju dengan kesepakatan yang saya tawarkan. Waktu demi waktu berlalu, ujian SPMB selama 2 hari saya ikuti setelah mengikuti bimbingan belajar selama satu bulan. Hasilnya? Saya dinyatakan tidak lulus dari pilihan jurusan yang saya minati.

Mungkin memang doa Ibu lebih didengarkan oleh Tuhan dibanding saya yang shalatnya pun masih bolong-bolong. Mungkin memang doa Ibu adalah yang terbaik untuk anaknya. Empat tahun lamanya mengecap pendidikan di sekolah keperawatan ditambah satu tahun profesi saya jalani dengan suka cita. Bahkan pekerjaan sekarang berasal dari jurusan yang dipilihkan Ibu. Sejak akhir tahun 2010 saya terdaftar sebagai Dosen Tetap di STIKES Nani Hasanuddin Makassar bahkan dipercaya sebagai Ketua Program Studi Profesi Ners, yang setahun belakangan saya emban.

Terkadang pemilihan keputusan yang akan kita ambil, tidak harus benar-benar berasal dari keinginan sendiri. Pertimbangan keluarga, lingkungan sosial dan kemampuan diri bisa dimasukkan poin dalam membuat keputusan.

Iklan