Beberapa malam lalu saya mengikuti sebuah kelas menulis dengan materi autoetnografi dalam praktek. Pada kesempatan itu dijelaskan bahwa autoetnografi adalah tekhnik menulis dengan menggali pengalaman ataupun interaksi diri sendiri untuk memahami budaya, jadi sebenarnya semua orang bisa menulis karena memiliki pengalaman dan budaya. Autoetnografi bisa dibilang bahwa sebuah tulisan yang menceritakan diri sendiri, interaksi, lingkungan ataupun konflik yang dialami. Hal  yang tentunya terjadi pada setiap orang. Semua orang memiliki budaya.

Penjelasan materi kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan “Lantas mahluk apa itu budaya?”. Budaya adalah pengetahuan, nilai, kepercayaan, tingkah laku, artifak yang semuanya berasal dari manusia. Sesuatu yang berasal BUKAN dari manusia tidak bisa disebut sebagai budaya, budaya bisa dipelajari dan dibagi oleh orang lain maka budaya itu adalah sebuah konteks sosial. Ciri budaya yang paling menonjol adalah sering diterima apa adanya atau sudah dari sononya, seperti banyak pamali yang sering kita lakukan tanpa mencari tahu kenapa pamali itu ada, misal kepercayaan orang bugis yang tidak membelohkan bepergian ketika perjamuan makan sedang berlangsung, karena dipercaya akan mendapat musibah. Orang bugis tidak pernah tahu, apa korelasi antara meninggalkan orang yang sedang makan dengan keselamatan saat bepergian. Kepercayaan itu diterima begitu saja karena sudah dilakukan turun temurun, itulah budaya.

Penjelasan selanjutnya tentang budaya bahwa budaya itu bisa berubah, bisa juga bukan berasal dari dalam atau asli, seringkali merupakan pengaruh dari faktor eksternal. Budaya bukan hanya tentang karya seni. Budaya yang sering kita pahami adalah sesuatu yang bersifat kedaerahan atau etnis, padahal budaya tidak melulu berasal dari etnis tertentu.

Penjelasan tentang budaya yang dikemas dalam materi autoetnografi ini sungguh membuka pikiran saya tentang budaya. Selama ini ada banyak budaya yang kita lakukan tanpa sadar itu adalah budaya, banyak perilaku menyimpang yang kita lakukan secara sadar, tanpa mengerti bahwa itu akan menjadi budaya.

Setelah mendapatkan materi tentang budaya, baru-baru ini saya tersadar akan satu budaya yang terjadi di sekitar saya. Berawal dari suatu pagi yang biasa saja, saya yang hari itu melakukan supervisi ke lahan praktek mahasiswa keperawatan menemukan sesuatu yang mengganggu pikiran. Mendengarkan keluh kesah mahasiswa tentang sikap dan perilaku pembimbing di lahan praktek membuat saya naik pitam. Bagaimana tidak, saya merasa mahasiswa saya diperas oleh oknum tertentu hanya untuk kepentingan pribadinya, sebuah kepentingan yang tidak ada hubungannya dengan proses belajar yang sedang dijalani mahasiswa.

Mahasiswa yang saya maksud adalah mahasiswa Profesi Ners (perawat), selama pendidikan mereka akan ditempatkan di berbagai fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, panti sosial ataupun di tengah masyarakat. Tugas mereka adalah belajar secara ril, mempraktekkan teori/skill yang sudah mereka dapatkan selama duduk di bangku kuliah, langsung ke pasien yang sebenarnya. Untuk mengakomodasi itu maka akan dilakukan kerja sama dengan pihak  penyedia fasilitas kesehatan. Selain dibimbing oleh dosen institusi yang kemudian disebut pembimbing institusi, mahasiswa juga dibimbing oleh staf/perawat yang ada di lahan praktek yang kemudian disebut pembimbing lahan. Mahasiswa akan dievalusi oleh pembimbing institusi dan pembimbing lahan, sederhananya mahasiswa mendapatkan nilai dari kedua pembimbing tersebut.

Sebelumnya seorang mahasiswi yang sedang menjalani pendidikan profesi ners pada suatu kesempatan menemui saya, mengeluhkan nilai praktek dari pembimbing lahan belum juga keluar. “Kenapa bisa?” balas saya agak bercanda, kemudian mahasiswi bersangkutan bercerita ia bersama teman-temannya diminta membeli pot bunga besar sebagai kenang-kenangan, sebelum nilai dikeluarkan. Dahi saya mengkerut, bukan karena panasnya cuacanya di Makassar akhir-akhir ini, saya kaget sekaligus heran hal seperti ternyata terjadi di bawah pengawasan saya. Teringat beberapa bulan lalu cerita yang hampir sama sampai di pendengaran saya, mahasiswa di tempat yang berbeda diminta patungan membeli lemari es untuk disimpan di ruang perawatan tempat mereka melakukan praktek, sebelum mereka mendapatkan nilai.

Mencoba mencari kebenaran kabar yang saya dengar, saya menemui beberapa mahasiswa yang sekolompok mahasiswi yang melapor tadi. Entah kompak atau memang terjadi, cerita yang sama saya dapatkan dari beberapa orang mahasiswa. Namun, alangkah salahnya saya jika membenarkan kabar ini jika tidak mendengarkan dari sisi lainnya. Saya pun mencoba menelpon pembimbing lahan yang dimaksud, tentu dengan tidak langsung menanyakan perihal ‘pot bunga’ yang diminta. Mencoba menggali informasi dengan tetap menjaga perasaan, saya hanya menanyakan kenapa nilai mahasiswa belum dikeluarkan padahal mahasiswa sudah selesai praktek satu minggu lalu. “Masih ada yang perlu saya bicarakan dengan mereka pak” kata pembimbing lahan di seberang telepon, meski memang kalimat tersebut mengandung banyak makna, saya  menyimpulkan bahwa cerita mahasiswa benar adanya.

Cerita yang berawal dari pot bunga pun berkembang, seorang mahasiswi yang tidak hadir praktek selama 2 hari karena sakit, diminta membeli jam tangan untuk menggantikan ketidakhadiran itu. Tidak tanggung-tanggung jam tangan yang diminta adalah jam tangan bermerk, Alexander Christie. Melalui telepon mahasiswi bersangkutan membenarkan kabar tersebut, pembimbing lahan meminta jam tangan yang dimaksud dengan alasan anaknya tidak lama lagi akan berulang tahun, dan ia berniat menghadiahkannya sebuah jam tangan. Dengan tegas saya melarangnya untuk memenuhi permintaan itu.

Sepulang di rumah saya menuliskan sebuah status di Facebook tentang kejadian yang baru saya dengar. Benar dugaan saya, masalah seperti ini bukan pertama kali terjadi. Beberapa teman facebook menceritakan pengalaman mereka, bisa dibaca disini.

Saya tidak menampik bahwa mahasiswa juga punya andil dalam hal ini, beberapa mahasiswa malah menyukai cara seperti ini. Menawarkan barang atau sejumlah uang untuk melicinkan proses pendidikan yang dialami. Bisa saja awal dari praktik seperti ini karena memang mahasiswa sendiri yang menciptakannya. Namun siapa yang tahu dari mana asal muasal kejadian seperti ini hingga menjadi budaya. Tapi seharusnya pembimbing lahan sebagai pendidik punya kedewasaan dalam menyikapi hal seperti ini, bukan malah menyambutnya dengan tangan terbuka.

Mahasiswa tidak seharusnya mencari jalan pintas dalam menjalani pendidikan, ikuti proses yang ada pasti tidak akan ada masalah. Kalaupun karena satu dan lain hal terlibat dalam masalah, seharusnya berkonsultasi dengan institusi pendidikan, toh sudah ada alur pemecahan yang sudah disiapkan. Paling tidak institusi pendidikan akan mencari jalan keluar, jika memang masalah yang dialami belum termuat dalam sebuah aturan. Saya yakin tidak ada institusi pendidikan yang ingin melihat mahasiswa mereka gagal, karena kegagalan mahasiswa adalah cerminan gagalnya pembinaan yang dilakukan institusi pendidikan.

Pembimbing institusi ataupun pembimbing lahan tidak seharusnya menerima apalagi meminta, dengan begitu budaya ini tidak akan tercipta. Tidak ada yang salah dengan meminta, tapi apakah harus dengan tindakan intimidatif? Menahan nilai misalnya. Nilai yang merupakan titik lemah dari mahasiswa, nilai berupa angka yang akan menentukan masa depan mereka. Titik lemah ini yang mengundang mahasiswa dan pembimbing untuk ‘bermain’.

Awalnya saya berpikir mungkin ini adalah imbas dari keluhan perawat tentang gaji kecil yang mereka dapatkan, tidak sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Selama ini perawat memang masih merasa hasil jerih payah mereka belum terbayarkan sebagaimana mestinya, pendidikan yang mereka jalani sama dengan pendidikan yang dijalani dokter, tapi gajinya jauh dari yang didapatkan dokter. Pikiran tersebut terbantahkan oleh ‘ini perbuatan oknum’, tidak bisa digeneralisasi kepada semua perawat atau pembimbing lahan. Dengan gaji yang sama, masih banyak pembimbing lahan yang melakukan fungsi mendidik dengan baik tanpa mengharapkan barang dari mahasiswa. Ini bukan tentang materi tapi tentang Moral.

Hal seperti ini bukan hal baru, sadar atau tidak dari dulu sudah sering dilakukan. Orang tua membawakan telur kepada kepala sekolah dengan maksud akan menyekolahkan anaknya di sekolah dasar yang dipimpimnya. Tawaran bantuan dana untuk operasional sekolah agar seorang siswa bisa mewakili sekolah dalam acara nasional, jambore pramuka misalnya. Pemilihan jurusan di SMA dicemari oknum guru dengan memberikan tarif tertentu pada jurusan favorit. Ratusan juta untuk masuk kuliah di sebuah institusi pendidikan yang katanya ada ikatan dinas dengan pemerintah. Contoh-contoh hal yang terjadi di sekitar kita, menguatkan bahwa ini budaya yang sudah lama ada. Hanya bentuk dan pelakunya yang berbeda.

Lantas bagaimana sikap kita yang tidak terlibat di dalam lingkaran budaya itu? Hal yang paling gampang kita lakukan adalah jangan diam, jangan acuh, bertindak!. Jangan karena tidak berimbas langsung kepada kita yang tidak terlibat, kita memilih memdiamkannya. “Toh yang rugi bukan kita”, “biarlah nanti dibalas di akhirat”, “nanti akan dapat ganjarannya kok” adalah buah pemikiran yang salah. Secara tak langsung budaya seperti yang saya ceritakan di atas bertahan karena kita yang tidak terlibat membiarkannya terjadi di depan mata.

“Kezhaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang-orang jahat tetapi karena diamnya orang-orang baik.”

Iklan