“Menangiska di malam pertamaku, menyesalka menikah” kata teman saya Mashuri yang baru menikah lima bulan lalu. Tentu saja saya yang bertanya kaget dengan jawaban yang diberikan Uri, panggilan untuk Mashuri. Pertemuan dengan Uri terjadi saat arisan teman SMA, arisan yang berlangsung sekali dalam sebulan.

Ide arisan ini muncul sebenarnya hanya agar bisa bertemu teman-teman SMA, arisan inilah yang kami jadikan alasan untuk bertemu setidaknya sekali dalam sebulan. Sebagai perantau di kota Makassar bertemu dengan teman SMA punya kesan tersendiri, kesibukan pekerjaan, pergaulan dengan teman baru, membuat intensitas pertemuan tersisih. Arisan ini kami sebut sebagai arisan angkatan, arisan yang anggotanya adalah alumni SMA negeri 1 Panca Rijang, Kabupaten Sidrap khusus angkatan 2006. Jumlah uang yang terkumpul pun dalam arisan tidak banyak, seratus ribu per-orang atau satu juta delapan ratus ribu rupiah sekali arisan, yah sekali lagi arisan ini memang diadakan hanya sebagai alasan untuk bertemu. Meski sudah tiga kali arisan diadakan, belum pernah sekalipun semua teman hadir, tak apalah minimal ada usaha untuk saling bertemu.

Bulan agustus ini menjadi pertemuan arisan yang keempat, setelah panjang lebar membahas tempat yang akan dijadikan lokasi arisan, akhirnya diputuskan suatu cafe yang di kawasan Panakkukang. Saya datang belakangan dari yang lainnya, nampak lima teman SMA saya sudah duduk di tengah cafe itu. Semuanya laki-laki, entah apa yang membuat teman-teman perempuan tidak bisa hadir dalam arisan ini. Meski yang datang hanya laki-laki, arisan ini tidak hanya betul-betul dihadiri ‘mahluk batangan’, ada tiga sosok ‘mahluk halus’ juga. Yah tiga perempuan itu adalah istri dari tiga orang teman.


“Wah kayaknya arisan kali ini ajang pamer istri dih” celetuk saya begitu tiba di tempat mereka duduk. Entah karena bercanda atau iri, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut saya. Basten teman saya mengiyakan yang saya katakan “Iyo, na bawa semua istrinya” kata Basten bernada kesal, Basten memang masih lajang sama seperti saya. Zainal yang juga masih lajang hanya tertawa kecil, mungkin dia juga kesal tapi entahlah, hati orang siapa yang tahu.

Pada arisan kali ini ada tiga teman yang membawa serta istri mereka, pertama ada Arfah dan Selvi yang sedang hamil tiga bulan, mereka menikah bulan Januari tahun 2015 ini, kemudian ada Imam dan Rahmah yang baru saja melangsungkan pernikahan Bulan Agustus 2015 ini, terakhir Mashuri dan Rere yang saya ceritakan di awal tulisan ini, Rere juga sudah sedang hamil 4 bulan. Senang rasanya melihat teman-teman membawa serta istri mereka. Paling tidak, bisa mengingatkan kalau memang sudah waktunya berkeluarga.

para istri (Rahma, Rere, Selvi)

 

Maka topik pembicaraan pada arisan kali ini, tidak jauh dari urusan berumah tangga. Imam mengaku hidupnya lebih teratur setelah menikah, bangun pagi tidak lagi dibangunkan sama alarm, sarapan sederhana sudah siap sebelum berangkat kerja. Arfah tak jauh beda, ia mengatakan setelah menikah lebih terurus daripada sebelumnya. Uri beda lagi, menanggapi pertanyaan saya bagaimana persiapan dia sebagai calon bapak “biasaji, bagusnya dia tidak merepotkanji” sambil menunjuk istrinya yang duduk di depannya. “tapi menyesalka menikah ces, menyesalka kenapa baru menikah sekarang, enak pale” kata Uri dengan mimik yang nampak mengejek, mengejek saya, basten dan Zainal para lajang yang hadir di arisan kali ini.

Saya paham ‘enak’ yang dimaksud Uri adalah terpenuhinya kebutuhan biologis, namun pernikahan tentu saja bukan hanya tentang hubungan suami istri. Pernikahan tentu merujuk kapada hal yang lebih kompleks, menyempurnakan ibadah, mendapatkan keturunan, belajar bertanggung jawab adalah sebagian kecil dari makna yang terkandung dalam sebuah pernikahan. Meski Uri hanya bercanda mangatakan kalimat itu, bagi yang lajang ini adalah sebuah sindiran halus yang bisa bermakna KENAPA BELUM MENIKAH? MENIKAH ITU ENAK!

Pernikahan teman tentu adalah kabar gembira, tapi di sisi lain bagi yang belum juga menikah ini seperti tamparan. Pernah sekali saya diberi nasihat oleh seorang tua, menikah itu adalah bentuk tanggung jawab kamu sebagai laki-laki, kamu tidak bisa dibilang laki-laki yang bertanggung jawab kalau belum menikah. Bos saya di kantor berkata “penting itu adil untuk orang lain, tapi kau juga harus bisa bertindak adil untuk dirimu sendiri, menikah ko supaya kau bisa adil sama dirimu sendiri”. Bagi  kamu yang membaca tulisan ini dan belum menikah, I FEEL YOU BRO!. Oh iya arisan kali ini, nama yang muncul mendapatkan arisan adalah Mita, dia tidak sempat hadir.

 

para peserta arisan

Sampai ketemu di arisan selanjutnya kawan!

Iklan