“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”

(Andrea Hirata, Sang Pemimpi)

Sekitar dua puluh sembilan menit lagi, jam digital finger print di kantor akan menunjukkan waktu pulang.  Notifikasi aplikasi chating di smartphone  saya menunjukkan ada pesan yang masuk, dengan agak malas karena perasaan ngantuk yang mendera, saya membuka aplikasi chating berwarna hijau tersebut. Ada pesan yang cukup panjang di antara pesan-pesan pendek lainnya. Pesan yang berhasil mengusir kantuk saya sore itu, pesan yang cukup menginspirasi tapi berhasil mengiris hati saya.

“Teman-teman. Saya mau cerita sesuatu.

Beberapa jam yang lalu saya ditelepon Andan, teman yang kebetulan jadi kurator untuk program pertukaran seniman Indonesia-Korea (yang mendatangkan Hyeongman dan Myung kemarin). Tadinya dia berniat mendaftarkan saya untuk residensi di Korea selama 2 bulan, tapi ketika tahu kalau umurku sudah 38 dia bilang kayaknya susah karena yang dicari adalah yang umurnya di bawah 35.

Yang saya mau bilang adalah ; selagi kalian masih muda, perluaslah wawasan, keterampilan dan pergaulan. Pilih satu bidang yang kalian minati dan focus di sana. Jangan sia2kan masa muda kalian dengan sekadar hura-hura. Cari ilmu sebanyak mungkin.

Saya cukup menyesal melewatkan banyak usia muda saya dengan kegiatan monoton di kantor. Tidak ada salahnya dengan kerja di kantoran, tapi di luar itu harus banyak2 menyerap ilmu dari mana saja, mengasah terus kemampuan supaya jadi ahli di bidang yang kalian pilih.

Dan jangan lupa, menulislah! Karena menulis membuat otak kalian tidak berkarat.

Selamat sore, semoga menginspirasi.”

Pesan ini diteruskan di grup chat kelas menulis Kepo, yang berisi kebanyakan anak-anak muda berusia 20-an. Kelas menulis yang berisi anak-anak muda yang punya keinginan menulis, namun belum memiliki banyak ilmu dalam dunia penulisan. Di grup tersebut juga terdiri dari para pendamping, salah satunya Syaifullah Dg. Gassing yang akrab kami panggil Daeng Ipul, orang yang menuliskan pesan panjang di atas.

Saya sebagai salah satu murid di kelas itu, cukup teriris hatinya setelah membaca pesan Daeng Ipul. Pesan yang mengingatkan saya akan mimpi ketika masih sekolah. Mimpi yang membuat saya memilih jurusan Hubungan Internasional saat mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa di universitas negeri. Mimpi yang melecut semangat saya kuliah di jurusan keperawatan agar nantinya bisa bekerja di luar negeri, setelah gagal melewati tes masuk universitas negeri. Mimpi tentang berkeliling dunia, atau paling tidak melihat belahan dunia lain. Bagaimana kabar mimpi itu sekarang? Tulisan ini tidak akan ada jika dulu saya mampu mengejar mimpi itu.

Kemudian saya teringat seseorang  saya kenal baik, seseorang yang pernah menjadi tetangga saya bertahun-tahun lamanya.  Ia berhasil mewujudkan mimpinya, mimpi yang mulai terbangun sejak masih di sekolah dasar. Syaifuddin Suaib yang lebih dikenal dengan nama Cipu, tinggal hanya lima langkah dari tempat tinggal saya di kampung. Rumahnya cukup sering saya kunjungi, kebetulan saya belajar sampai menamatkan al-Quran di rumahnya, Ibu Cipu adalah guru ngaji saya. Cipu mengecap pendidikan setelah lulus SMA di luar negeri, tepatnya di University Of Melbourne. Penasaran dengan cerita kesuksesannya, saya pun menghubunginya lewat chat segera setelah membaca pesan Daeng Ipul di atas.

Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan balasan dari pesan yang saya tinggalkan, melalui aplikasi chat Cipu bersedia meluangkan waktu untuk menjawab rasa penasaran saya.  Mimpi untuk kuliah di luar negeri ternyata bukan hal yang baru bagi Cipu, mimpi itu sudah lama terpatri dalam hidupnya.

Di sekolah dasar dulu ia pernah membaca buku cerita tentang anak yang ikut bapak sekolah di Perth, bayangan tentang luar negeri juga ia dapatkan setelah membaca buku Totto Chan yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi, buku anak-anak yang bercerita tentang nilai pendidikan yang didapatkan penulis selama menempuh pendidikan di Tomoe Gakuen, Jepang (setara dengan SD). Deskripsi tentang suasana di Jepang dalam buku Totto Chan berhasil Cipu visualkan melalui matanya sendiri, ketika akhirnya ia pada tahun 2004-2005 mengikuti program student exchange ke Jepang.

Rintangan tentu tidak lepas dari perwujudan mimpi Cipu, menimba ilmu di luar negeri hampir saja ia wujudkan ketika masih duduk di bangku SMA. “saya sebenarnya pernah ikut seleksi pertukaran ke luar negeri pas SMA tapi ga jadi berangkat karena bapak meninggal” kata Cipu, impian yang harus ikut terkubur bersama kepergian bapak tercinta. Tak patah arang ia tetap berusaha mengejar mimpi itu, meski Ibunya melarang ia kuliah di luar negeri, tapi ia  cuek dengan larangan itu karena berpikir toh belum tentu lolos, meski awalnya Ibu terkejut saat mengetahui Cipu lolos seleksi kuliah di luar negeri namun akhirnya menjadi kebanggan tersendiri bagi Ibunya.

 

Saifuddin Suaib, gagah kan?
 
Sistem pendidikan yang bagus, beasiswa yang banyak, network yang luas serta bisa sekalian traveling adalah alasan kenapa akhirnya Cipu memutuskan untuk mewujudkan mimpinya. Tentu ini bukan sekadar aji mumpung, ini adalah jawaban dari usaha yang telah ia lakukan selama ini. Mencari informasi beasiswa, mencari informasi Negara target, kampus serta jurusan yang sesuai, permantap bahasa inggris adalah persiapan kecil yang ia lakukan. Senada dengan yang diucapkan Sahabuddin Jumadil, yang kini mengecap pendidikan S2 di Jepang.

Sahabuddin Jumadil adalah teman SMA saya, bahkan pernah sekelas di kelas tiga. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di jurusan Geologi Universitas Hasanuddin, ia melanjutkan pendidikan S2 di Faculty Of International Resource Science, Akita University. Segera setelah mendapat kabar tersebut, saya yang cukup dekat dengan Sahabuddin langsung menghubunginya. Perbincangan kami dimulai ketidakpercayaan saya ia sekarang ada di Jepang, maklumlah kami sempat lost contact.

Keinginan kuliah di Jepang juga sudah mulai dimimpikan Saha (begitu dia akrab dipanggil) ketika masih di SMA, namun tergiur oleh tawaran kuliah di Jurusan Geologi melalui Jalur Pemanduan Potensi Belajar (JPPB) atau singkatnya jalur bebas tes. Meski form pendaftaran beasiswa ke Jepang sudah di tangan, Saha lebih memilih tawaran JPPB yang sudah pasti akan menerima kuliah di Universitas Hasanuddin. Mimpi kuliah sarjana di Jepang ternyata terwujud setelah dia Sarjana “Allah ternyata memberikan kesempatan itu berkat saya kuliah di jurusan Geologi Unhas” kata Saha menimpali pertanyaan saya, apakah ia menyesal tidak mendaftarkan diri ke Jepang waktu SMA?.

Saha sangat tertarik dengan Jepang sebagai salah satu negara maju, selain itu Jepang juga memiliki empat musim, hal yang tidak ia dapatkan di Indonesia. “Alasan terakhir setelah sekian banyak alasan yaitu pengen jalan2, hehe” alasan yang sukses bikin saya iri. Masih ingat di SMA dulu Saha sering kami gelar dengan julukan “pendekar alis tebal” lantaran ia memiliki alis yang lebat dari siapapun di sekolah, pendekar alis tebal itu kini ada di Jepang memperdalam ilmu pendekarnya.  

  

Sahabuddin Jumadil, lebat kan?
  
berfoto dengan latar belakang salju dan orang yang sedang kencing hahaha

 kisah kesuksesan meraih mimpi dua orang yang saya ceritakan di atas, bisa menjadi pembakar semangat para pemimpi yang belum terbangun dari mimpinya. Bukan hanya kisah sukses yang bisa dijadikan sebagai pemecut semangat, karena masih ada pelajaran berharga yang bisa dipetik dari sebuah penyesalan. saya salah seorang yang termasuk menyesal karena tidak bisa memenuhi mimpi, titik kegagalan saya adalah usaha yang tidak maksimal. Tidak percaya diri dengan kemampuan sendiri yang berujung kepada keputusan untuk tidak bertindak lebih jauh. Semester awal kuliah di keperawatan, saya pernah tekun belajar bahasa inggris, alasannya karena untuk bekerja di luar negeri saya harus mampu berkomunikasi dalam bahasa inggris. Ini juga yang saya jadikan motivasi setelah awalnya menggerutu karena kuliah di jurusan yang dipilihkan ibu.

Usaha yang saya lakukan tidak maksimal, saya hanya belajar bahasa inggris secara otodidak dengan membeli buku yang judulnya sangat menjanjikan “Menguasai bahasa inggris dalam seminggu” atau “Menguasai Bahasa Inggris tanpa kursus”. Tidak ada salahnya belajar secara otodidat, hanya saja saya tidak pernah menamatkan tiga judul buku yang saya beli. Jenuh dengan hasil yang tidak seberapa, mimpi saya menghilang seiring tumpukan tugas kuliah.

Begitupun dengan Daeng Ipul, pesan yang dilontarkan grup chat hari ini bernada penyesalan. Daeng ipul menyesal waktu masih muda hidupnya terlalu monoton, dan tidak ada usaha untuk menambah pengetahuan di luar. Sama seperti saya, Daeng ipul juga pernah mimpi ke luar negeri namun tidak pernah berusaha mewujudkannya, hal yang kemudian Daeng Ipul sesali. Luar negeri itu keren terutama Eropa, apalagi jika bisa keliling dunia, menurut Daeing ipul. Pikiran yang mungkin dipengaruhi oleh salah satu tokoh kartun kesukaannya yang juga suka bertualang, Tin Tin.

“Cara terbaik belajar dari penyesalan/kegagalan seseorang adalah dengan tidak mengikuti apa yang orang gagal itu lakukan”

Terkhusus bagi yang ingin kuliah ke luar negeri, Saha pernah berpesan ; kuncinya adalah jangan menyerah, meski banyak tawaran beasiswa tapi tidak ada yang mudah. Prosesnya sangat melelahkan sehingga hanya orang yang bertekad kuat dan mampu bertahan yang akan berhasil.

Pesan Cipu beda lagi, sering mendapatkan pertanyaan bagaimana cara lulus seleksi beasiswa ke luar negeri, ia menuliskan sedikit saran di blognya dengan judul Give A Shot , yang saya pahami bisa bermakna LAKUKAN SAJA!

“Bermimpi itu mudah, semudah membayangkan diri kita berada di suatu tempat yang indah. Namun tidak banyak pemimpi yang berani bangun dan menghadapi kenyataan bahwa esensi dari sebuah keindahan berarti perjuangan tak kenal lelah”

~ Ardian Adhiwijaya ~

Iklan