Ada yang diam-diam kutanam di senyum juga pejammu. Yang selalu ingin kucuri kembali tiap kali ia mewujud rindu.

Sebuah kalimat yang diposting di media sosial twitter oleh seorang kawan, 111 karakter yang tersusun apik dalam sebuah kalimat yang indah. Postingan tweetnya selalu membuat saya berdecak kagum, kata-kata yang biasa saya dengar sehari-hari ternyata bisa berwujud kalimat yang indah di tangannya.

Meski sebelumnya sudah pernah bersinggungan di sebuah kegiatan, namun saya baru akrab dengan ia di pertengahan Bulan Oktober tahun 2014. Hari itu merupakan pendakian pertama saya, sembilan lelaki tanggung mendaki Gunung Bulusaraung. Salah satu dari mereka bertubuh tinggi dengan badan agak kurus, entah kenapa penampakan fisiknya mirip dengan fisik yang saya miliki. Andi Nasser Otto namanya, lelaki yang kemudian kukenal dengan panggilan Na’ atau Nana’ dengan penekanan pada akhir namanya.

Menurut ceritanya sendiri, awalnya ia  diberi nama Saddam Husein oleh Ayahnya. Ayahnya mungkin adalah pengagum Saddam Husein hanya karena sama-sama orang dari militer. Ibunya yang kemudian mengganti nama itu, setelah  menyaksikan berita tentang perang teluk dan menganggap Saddam adalah orang jahat. Andi Nasser Otto ; Nasser berasal dari kata Nasr yang berarti pertolongan, Otto berasal dari nama Kakek.

Andi Nasser Otto : Na'
Andi Nasser Otto : Na’
Nama yang bertuah buat Na’, menurut saya dia adalah orang yang suka memberi pertolongan, memiliki kepedulian yang tinggi, dan sikap tenggang rasa (kok berasa belajar PPKn yah). Sepengetahuan saya, Na’ bergabung dalam komunitas sosial Lingkar Donor Darah Makassar yang membantu pasien (biasanya pasien dari daerah yang tidak punya sanak keluarga di Makassar) mencari pendonor darah, tidak jarang ia sendiri yang mendonorkan darahnya. Pernah juga ia menunjukkan totalitasnya membantu pasien anak yang bernama Ovan (mengidap kanker mulut), padahal Ovan berasal dari provinsi yang berbeda. Tidak jarang juga Na’ ikut dalam gerakan sosial lainnya seperti Berbagi Nasi atau Emergency Response Team. Bentuk pertolongan yang ia berikan juga bisa terlihat pada saat naik gunung, seringnya ia mengambil posisi paling belakang sebagai sweeper. Sebagai Sweeper ia ingin memastikan semua rombongan baik-baik saja, jikapun tidak, ada ia di belakang memberi pertolongan. ahh Na’ harus mentraktir saya untuk puji-pujian ini.

Mari membahas tulisan Na’. Seperti kalimat pembuka di atas, tulisan-tulisan di blognya dihiasi kata-kata yang puitis, diksi yang beragam dan sastra banget. Membaca tulisan-tulisannya kita akan berpikir, ia pembaca sastra yang tulen. Meski ia sendiri mengakui bahwa bacaannya tidak didominasi bacaan sastra. Saya sendiri kadang mendapatkan tambahan kata-kata baru setelah membaca tulisannya.

Tulisan yang kaya diksi itu kemudian dia torehkan di matamatahari.com. Penuh penasaran saya pun menanyakan kenapa memilih mata matahari sebagai nama blog, yang juga menjadi nama akun twitter dan instagramnya. Mata Matahari adalah sebuah nama pemberian oleh seniornya, nama yang diberikan sebagai penanda sifat/kebiasaan setelah selesai mengikuti diksar penggiat alam (setingkat sispala). 

Lima orang teman yang sekelompok dengannya pun mendapatkan nama lapangan sesuai sifat mereka, akar langit, genta bumi, panah api dan mata matahari (satu nama lepas dari ingatannya) adalah nama yang diberikan kepada kelompoknya.

Sering memilih tidak terlihat (karena suka berada paling belakang), tapi mampu memberi hangat. Banyak diam tapi tahu apa yang harus dilakukan untuk tim, seperti mata yang selalu melihat timnya, seperti matahari yang selalu memberi hangat. Kira-kira seperti itu alasan seniornya menyematkan nama mata matahari kepadanya.

Tulisan yang paling mencuri perhatian di blognya adalah cerita bersambung tentang Gunung dan kawanku, meski saya sudah pernah mendengar versi lengkap dari cerita ini, langsung dari mulutnya namun tetap ada letupan-letupan kejutan di tulisan itu. Tulisan ini (katanya) untuk mengekalkan ingatan, ingatan yang mungkin saja bisa tenggelam satu persatu. Tulisan yang akan menghimpun kisah untuk didongengkan kembali pada Aufa dan Althaf.

Andi Nasser Otto, Lelaki yang tingginya 174 Centimeter, matanya tajam, badannya kurus, sikapnya dingin, namun mampu menghangatkan teman sekelilingnya dengan perhatian dan kelembutan yang dia sengaja sembunyikan di balik raganya.

*Tulisan ini sebagai bagian dari tugas di Kelas Menulis Kepo, #BakuSekam (baku tulis Senin Kamis), tugas ini adalah review blog sesama murid Kelas Menulis Kepo dengan menggunakan interval waktu senin – kamis, kamis senin. 

 

Iklan